![]() |
| Foto (istimewa) |
"Sekarang saya tidak bergabung lagi dengan LBH mereka, saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi," kata Mama Sinta dalam pernyataan melalui video yang diterima http://Inilah.com di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Ia mengatakan ketiga anaknya juga membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Jadi mama harap ke depan mohon dibantu. Saya tetap di pihak perusahaan sekarang, tidak seperti dulu lagi karena dulu itu saya dimanfaatkan, saya diajak oleh orang-orang LBH," jelasnya.
Mama Sinta menceritakan awalnya ia bersama kelompok masyarakat adat Marind diajak pria bernama Aris untuk menyuarakan penolakan pembukaan lahan oleh pemerintah di Papua. Pernyataannya kemudian viral di media sosial hingga dibuatkan film berjudul _Pesta Babi_ tanpa seizinnya.
"Akhirnya saya sudah terlanjur viral di mana-mana sampai mereka sudah buat film Pesta Babi tanpa izin dari saya, tanpa sepengetahuan dari saya. Itu yang saya kecewa sekali sekarang dengan mereka LBH," tutur Mama Sinta yang wajahnya juga terpampang di poster film tersebut.
Ia mengaku sudah tidak berkomunikasi lagi dengan pihak LBH Papua Pusaka pasca peristiwa tersebut. Mama Sinta juga menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah terkait pernyataan yang menyerang pembangunan PSN di Papua.
"Saya minta maaf sekali karena itu bukan kemauan saya, itu karena ajakan mereka. Saya juga tidak tahu ke depannya nanti terjadi seperti apa atau mereka bantu saya fasilitas punya rumah atau anak saya dipekerjakan, ternyata tidak ada," ungkapnya.
Mama Sinta menunjukkan kondisi dapur rumahnya yang tidak layak, termasuk kompor yang sudah tidak berfungsi baik.
"Sumbunya sudah habis, jadi kalau saya bakar memang nyala tapi yang di sumbunya tidak bisa naik, terpaksa saya pakai kayu bakar," ucapnya.
Selama enam bulan ia mengaku bolak-balik Papua ke Jakarta dan Makassar bersama LBH, namun tidak mendapatkan apa-apa selain kelelahan.
"Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi kalau mereka fasilitas terus uang duduknya cuma Rp2 juta, Rp1,5 juta itu saja yang kami dapat dari mereka, LBH pusaka," ungkapnya.
Kini Mama Sinta menyatakan mendukung program Pemerintahan Prabowo Subianto melalui pembangunan PSN di Papua dan memohon bantuan dari pemerintah.
"Pemerintah bisa membantu kita lewat perusahaan yang ada. Dan kami mendukung karena kami tidak punya apa-apa di kampung ini. Harapan kami cuma ke pemerintah, lewat pemerintah kerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat, maka itu kami mau dukung, perusahaan boleh lanjut sampai kami bisa menikmati hasil yang perusahaan sudah berikan," tutur Mama Sinta.
Pihak LBH Sangkal Pengakuan Mama Sinta
Peneliti Pusaka Bentala Rakyat Villarian atau Juple membantah pernyataan Mama Sinta.
Menurut Juple, pihaknya tidak pernah mendengar Mama Sinta mengatakan mendukung PSN.
“Enggak ada, itu perlu diklarifikasi, itu informasi dari mana karena Mama Yasinta itu bersama-sama dengan kita, bersama-sama dengan LBH Merauke, Pusaka Bentala Rakyat dan organisasi-organisasi lain itu berkomitmen untuk terus menolak PSN yang ada di Papua Selatan,” kata Juple saat dikonfirmasi http://Inilah.com di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
(Rill/Red)
